10 Tips Mendaki Gunung untuk Pendakian Perdana Pemula
Pesona mendaki gunung memang menarik, mulai dari samudra awan, sunrise, hingga udara segarnya. Namun, Carnivores perlu ingat bahwa gunung adalah alam liar yang menyimpan risiko terlebih untuk pemula. Tapi jangan khawatir, ada beberapa tips mendaki gunung yang bisa membantu kamu berkegiatan dengan lebih aman.
Bukan hanya soal fisik, tapi juga tips soal strategi dan kelengkapan alat yang tepat. Jangan sampai niat healing malah berubah menjadi pengalaman yang menyulitkan karena kurang persiapan. Mari simak sepuluh tips mendaki gunung bagi pemula berikut ini.
1. Pelajari Rute dan Karakteristik Alamnya

Sebelum mengencangkan tali sepatu, pastikan kamu sudah melakukan riset kecil tentang gunung yang akan dituju. Bukan hanya memilih gunung yang cocok untuk pemula, tapi juga memahami rute serta kondisi alamnya.
Kenapa? Karena setiap gunung biasanya punya beberapa jalur dengan tingkat kesulitan berbeda, ditambah karakter lingkungan yang bisa lebih lembap, panas, atau tertutup vegetasi.
Dengan riset awal, kamu bisa membayangkan medan yang akan dilalui, mulai dari tanah berpasir, tanah basah yang cenderung liat, hingga jalur yang sudah berpaving atau bertangga. Ini akan bantu kamu mempersiapkan langkah dengan lebih mantap.
2. Riset Aturan di Gunung

Sebelum berangkat, pastikan kamu memahami aturan perizinan, termasuk apakah gunung yang kamu tuju mewajibkan simaksi atau tidak. Hal ini penting supaya pendakianmu tetap legal dan terdata.
Selain itu, setiap gunung biasanya punya regulasi tambahan seperti aturan leave no trace untuk sampah, batasan jam pendakian, hingga larangan membuat api unggun di area tertentu. Mengetahui semua detail ini akan membantu kamu terhindar dari masalah di jalur maupun sanksi hukum.
Baca Juga: 7 Jenis Daging untuk Grill, Cocok untuk Pesta Barbeque!
3. Persiapkan Kondisi Fisik dari Jauh-Jauh Hari

Persiapan fisik sebelum mendaki gunung sangatlah penting agar kamu tidak drop di tengah perjalanan atau gagal menggapai puncak yang ingin kamu lihat. Pertanyaannya, bagaimana cara agar fisik kuat saat mendaki gunung?
Jogging dan bersepeda adalah dua latihan paling cocok karena ritmenya mirip dengan kebutuhan tenaga saat berada di jalur pendakian.[1] Lakukan latihan ini beberapa minggu sebelum naik gunung, dimulai dengan intensitas ringan lalu meningkat perlahan agar tubuh bisa beradaptasi dengan nyaman.
4. Atur Ritme Mendaki dan Istirahat Secukupnya

Cara mendaki gunung agar tidak cepat lelah adalah menjaga ritme dan tidak mengambil terlalu banyak jeda untuk beristirahat. Mengapa demikian?
Tubuh manusia bekerja paling optimal ketika bergerak dalam tempo yang konsisten, sehingga istirahat berlebihan justru membuat energi seperti “diputus” dan perlu memulai ulang dari nol. Jika terjadi berkali-kali, perjalanan terasa semakin melelahkan dan durasi pendakian bisa jadi jauh lebih panjang dari perkiraan.
5. Pilih Peralatan Pendakian yang Tepat

Pilihlah sepatu dengan grip kuat dan support yang baik. Data menunjukkan 75,3% pendaki terjatuh saat perjalanan turun, biasanya akibat jalur yang licin dan kondisi tubuh yang sudah kelelahan, dan sepatu yang tepat bisa sangat meminimalkan risiko tersebut.[2]
Selain sepatu, bawalah perlengkapan mendaki gunung seperti carrier yang nyaman, headlamp dengan baterai cadangan, serta trekking pole.
Baca Juga: 3 Resep Barbeque Sauce, Ada yang 10 Menit Siap Saji
6. Bawa Pakaian Sesuai Layering System

Tips lain untuk pemula yang ingin mendaki gunung adalah membawa pakaian sesuai layering system. Pastikan ada pakaian untuk baselayer yang memiliki berbahan cepat kering, pakaian mid layer untuk insulasi hangat, hingga outer layer anti-angin dan anti-hujan.
7. Siapkan Menstrual Kit jika Sedang atau Mendekati Jadwal Haid

Tips untuk pendaki pemula wanita adalah membawa pembalut/cup/menstrual pad yang nyaman, kantong kedap udara untuk membuang sampah pribadi, serta obat pereda nyeri. Hindari memakai pembalut terlalu lama agar tetap higienis.
8. Membawa Elektrolit

Selain air mineral, pastikan kamu juga membawa minuman elektrolit untuk menggantikan natrium yang hilang melalui keringat. Asupan ini membantu mencegah kelelahan berlebih, pusing, hingga risiko kehilangan kesadaran atau bahkan memicu hyponatremia yang banyak dialami pendaki.[3]
Baca Juga: Mau BBQ an Seru di Rumah? Berikut Tips dan Persiapannya
9. Gunakan Aplikasi Navigasi atau GPS Tracking
Meskipun kamu mendaki bersama rombongan, membawa navigasi cadangan tetap wajib. Gunakan aplikasi peta offline atau GPS tracking untuk memantau rute sekaligus membagikan posisi terkini jika diperlukan. Fitur ini sangat membantu saat mendaki malam hari, tertutup kabut tebal, atau ketika kamu terpisah.
10. Siapkan Bekal Makanan yang Praktis dan Bernutrisi

Mie instan memang jadi sahabat pendaki, tapi pastikan kamu juga membawa bekal yang lebih bernutrisi. Salah satu opsi praktis adalah ready-to-cook steak atau frozen food dari Steak Hotel by Holycow! yang mudah diolah di area camp.
Kandungan protein dari steak membantu memulihkan tenaga otot sekaligus membuat tubuh kenyang lebih lama, apalagi setelah jalur panjang dan menanjak.[4]
Produk frozen food-nya tersedia dalam berbagai potongan daging premium lengkap dengan bumbu marinasi daging grill sehingga kamu tidak perlu lagi repot membawa bahan grill.
Baca Juga: 5 Tempat Piknik Bandung yang Cocok untuk BBQ-an
Carnivores, setiap pengalaman mendaki selalu meninggalkan cerita. Namun cerita itu akan lebih indah jika kamu memulai dengan persiapan tepat.
Mulailah dengan mengikuti tips mendaki gunung di atas dan jangan lupa untuk membuat pengalaman lebih memorable dengan sajian makanan yang sehat, enak, tapi praktis dari produk frozen food dari Holycow yang asli, founded by Wynda Mardio. Rasakan sensasi grilling daging premium langsung di atas gunung!
Sumber
[1] Sukarmin, Y. (1995). Persiapan fisik bagi pendaki gunung: Sebuah alternatif pencegahan kecelakaan. Cakrawala Pendidikan, 1(XIV), Februari 1995. https://media.neliti.com/media/publications/87307-ID-persiapan-fisik-bagi-pendaki-gunung-sebu.pdf
[2] Faulhaber, M., & Pocecco, E. (2017). Fall-related accidents among hikers in the Austrian Alps: A 9-year retrospective study. BMJ Open Sport & Exercise Medicine, 3(1), e000304. https://doi.org/10.1136/bmjsem-2017-000304
[3] Rosner, M. H., & Myers, T. (2023). Exercise-associated hyponatremia in the Grand Canyon: Preventing fatalities through early recognition, timely therapy, and education. Clinical Journal of the American Society of Nephrology, 19(5), 660–663. https://doi.org/10.2215/CJN.0000000000000402
[4] Pearson, A. G., & Hind, K. (2022). The impact of dietary protein supplementation on recovery from resistance exercise-induced muscle damage: A systematic review with meta-analysis. European Journal of Clinical Nutrition, 77(8), 767–783. https://doi.org/10.1038/s41430-022-01250-y
Leave a comment
