Gejala & Dampak Kekurangan Zat Besi yang Perlu Diwaspadai
Sebagai mineral esensial, zat besi memiliki banyak peran penting bagi tubuh manusia. Sayangnya, kekurangan zat besi sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya yang tidak spesifik. Padahal, begitu besar dampaknya terhadap kualitas hidup sehari-hari.
Sekilas tentang Zat Besi dan Fungsinya
Tak terbatas pada manusia, zat besi merupakan mineral esensial yang dibutuhkan hampir semua makhluk hidup karena berperan sentral dalam metabolisme.
Di dalam tubuh manusia, zat besi terikat pada protein (hemoprotein), baik dalam bentuk heme (pada hemoglobin dan mioglobin) maupun non-heme (seperti transferin dan feritin). Fungsi zat besi sangat luas dan menentukan bagi kelangsungan hidup, yaitu:
1. Menyalurkan dan Menyimpan Oksigen
Zat besi adalah komponen dasar pembentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang mengikat oksigen di paru-paru dan mengangkutnya ke seluruh jaringan.
Untuk membentuk hemoglobin, tubuh memerlukan zat besi. Kalau tidak tercukupi, produksi hemoglobin terganggu. Tubuh pun kekurangan pasokan oksigen.
2. Memproduksi Energi
Selain itu, zat besi berperan sebagai molekul pembantu bagi banyak enzim yang terlibat dalam produksi energi. Artinya, jika kekurangan zat besi, tubuh tidak dapat mengubah makanan menjadi energi secara optimal.
3. Menyintesis DNA
Fungsi zat besi juga mencakup sintesis DNA dan pembelahan sel. Kedua proses ini penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Maka, kurangnya asupan zat besi pada masa pertumbuhan anak dapat berdampak fatal pada tumbuh kembangnya.
4. Menjaga Daya Tahan Tubuh
Yang tak kalah penting, zat besi turut berperan dalam menjaga sistem imun yang sehat, khususnya dalam memerangi infeksi. Kesimpulannya, zat mineral esensial ini jadi tulang punggung transportasi oksigen, produksi energi, sintesis DNA, dan fungsi kekebalan tubuh.
Penyebab Kekurangan Zat Besi

Ternyata penyebab kurangnya zat besi (defisiensi besi) cukup beragam, Carnivores. Ada lima kategori utama yang perlu kamu ketahui:
1. Faktor Genetik
Orang dengan pola makan yang sama pun bisa memiliki risiko defisiensi besi yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh varian gen TMPRSS6, misalnya rs855791 atau rs1421312, yang memengaruhi aktivitas matriptase-2.
Matriptase-2 sendiri berfungsi menghambat produksi hepcidin, yaitu hormon yang dapat mengganggu penyerapan zat besi jika kadarnya terlalu tinggi. Diperkirakan faktor genetik ini menyumbang sekitar 20-30% dari variasi kadar zat besi antarorang.[1]
2. Peradangan Kronis
Pada penyakit seperti gagal jantung atau penyakit ginjal kronis, peradangan mendorong tubuh memproduksi hepcidin secara berlebihan. Akibatnya, tubuh tidak bisa memanfaatkan zat besi meskipun simpanannya masih cukup. Sekitar 60% pasien gagal jantung menderita defisiensi besi jenis ini.[2]
3. Peningkatan Kebutuhan Zat Besi
Kebutuhan zat besi melonjak pada fase kehidupan tertentu. Pada ibu hamil, khususnya pada trimester akhir, angka kejadian defisiensi besi dapat mencapai 84%.[3] Begitu juga pada masa tumbuh kembang anak dan remaja, kebutuhan zat besi pun meningkat pesat.
4. Asupan atau Penyerapan Zat Besi Tidak Memadai
Di samping itu, kurangnya asupan zat besi dari makanan adalah penyebab lainnya, lebih-lebih lagi pada populasi dengan konsumsi sumber zat besi heme (seperti daging merah) yang rendah atau tingginya konsumsi makanan yang menghambat penyerapan zat besi.
Sering makan makanan manis dan camilan asin yang miskin nutrisi terbukti menyebabkan rendahnya kadar feritin sebagai cadangan zat besi.[4] Gangguan penyerapan juga tidak kalah berbahaya, Carnivores. Penyakit seperti celiac atau radang usus dapat mengganggu proses penyerapan zat besi di usus.
5. Kehilangan Zat Besi
Pada wanita, penyebab tersering adalah menstruasi berat. Sementara pada pria dan wanita yang sudah menopause, perdarahan di saluran pencernaan juga menjadi penyebab defisiensi besi.
Baca Juga: Makanan untuk Darah Rendah: Nutrisi yang Sering Terlewat
Ciri-Ciri Kurang Zat Besi
Defisiensi besi bisa memunculkan keluhan-keluhan yang sering disangka sebagai penyakit lain. Ini dia gejala-gejala yang biasanya dialami penderitanya:
-
Sulit berkonsentrasi
-
Sulit tidur atau tidur berlebihan
-
Mudah marah dan depresi
-
Rambut rontok
-
Kuku rapuh atau berbentuk sendok (koilonychia)
-
Gangguan makan pica
-
Sindrom kaki gelisah (Restless Legs Syndrome)
-
Lidah bengkak atau sakit
-
Sariawan atau luka di sudut mulut
-
Perut kembung
-
Telinga berdenging
Dalam banyak kasus, kondisi ini tidak memunculkan gejala apa pun, begitu juga dengan ciri-ciri anemia akibat defisiensi besi. Ketika kadar feritin mulai berkurang, tubuh masih mampu mempertahankan kadar hemoglobin. Maka, penderita tidak merasakan perubahan fisik apa pun dan menganggap dirinya sehat.
Itu alasan mengapa skrining melalui tes darah sangat penting. Kalau tidak melakukan pemeriksaan, bukan tidak mungkin kamu hidup bertahun-tahun dalam kondisi ini tanpa menyadarinya, Carnivores.
Baca Juga: 7 Cara Mudah Mencegah Anemia agar Tubuh Sehat
Akibat dari Kekurangan Zat Besi yang Tak Segera Diatasi
Defisiensi besi yang tidak diobati bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada tubuh yang terus memburuk. Pada kelompok rentan, dampaknya bisa bersifat permanen.
Ini dia tiga kategori utama yang perlu kamu waspadai:
1. Penurunan Kualitas Hidup
Pada orang dewasa, defisiensi besi secara langsung menggerus kualitas hidup. Penyebabnya adalah terganggunya kemampuan fisik, antara lain daya tahan, kekuatan otot, serta fungsi jantung dan paru-paru.
2. Komplikasi Kardiovaskular
Salah satu dampak paling serius dari anemia defisiensi besi yang berkepanjangan adalah meningkatnya beban kerja jantung.
Dengan menurunnya kadar hemoglobin, kapasitas angkut oksigen oleh darah menjadi berkurang. Konsekuensinya, jantung harus bekerja lebih keras dengan memompa lebih banyak darah untuk mencukupi kebutuhan oksigen seluruh tubuh.
Peningkatan kerja jantung ini berisiko menimbulkan gangguan irama jantung (aritmia), murmur jantung, pembesaran jantung (kardiomegali), hingga gagal jantung.
3. Kerusakan Perkembangan Saraf
Dampak paling mengkhawatirkan terjadi pada anak-anak, apalagi jika defisiensi besi terjadi pada rentang usia 0-2 tahun, yang merupakan periode emas perkembangan otak.
Anak-anak dengan defisiensi besi dini berisiko mengalami gangguan kognitif, motorik, dan perilaku, serta depresi dan ADHD yang menetap hingga bertahun-tahun, bahkan hingga masa remaja.
Cara Mengatasi Kekurangan Zat Besi
Untuk mencegahnya, kamu perlu perbaikan gizi, Carnivores.
Kuncinya ada tiga:
Konsumsi Sumber Zat Besi Heme
Penyerapan zat besi heme, yang merupakan salah satu kandungan gizi daging sapi, lebih optimal daripada zat besi dari tumbuhan. Karena itu, konsumsi daging sapi minimal 115 gram per hari.[5]
Kombinasikan dengan Vitamin C
Konsumsi juga sumber zat besi bersamaan dengan vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari sumber nabati jika kamu menjalani diet vegan. Makan 1 buah jeruk besar atau 1 buah jambu biji ukuran sedang untuk memenuhi kebutuhan vitamin C ini.
Hindari Penghambat Penyerapan
Batasi konsumsi teh dan kopi dalam waktu dekat dengan waktu makan karena kandungan polifenolnya bisa menghambat penyerapan zat besi non-heme. Sebaiknya beri jeda 1-2 jam sebelum dan sesudah makan.
Lantas, bagaimana kalau kamu sudah menunjukkan gejala-gejalanya? Kalau begitu, mengubah pola makan saja belum cukup sebagai obat untuk kekurangan zat besi.
Dokter akan menambahkan suplemen zat besi dalam penanganannya di samping menganjurkan untuk memperbanyak makan makanan dengan kandungan zat besi tinggi.
Bila kadar zat besi sudah sangat rendah atau dipicu oleh penyakit seperti perdarahan kronis, maka perlu tindakan medis lanjutan, misalnya transfusi darah, yang harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Ingin mendapatkan manfaat daging sapi secara maksimal untuk mencukupi asupan zat besi, namun effort-nya minimal? Jawabannya adalah mengandalkan Steak Hotel by Holycow.
Dengan berbagai pilihan menu daging berkualitas, Holycow memudahkan kamu menikmati sumber zat besi heme terbaik tanpa kerepotan mengolahnya, Carnivores.
Satu porsi steak dari resep founder Holycow, Wynda Mardio, sudah memberikan kontribusi nyata terhadap kebutuhan zat besi harian. Soal rasa tidak usah kamu ragukan lagi, sudah pasti memuaskan, deh!
Holycow yang asli sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jadi, untuk mendapatkan asupan zat besi heme berkualitas, tinggal datang ke outlet terdekat dan pilih menu favoritmu. Ini dia solusi praktis untuk mengobati kekurangan zat besi, bebas ribet!
FAQ
Leave a comment




